Jeda

 Pagi ini aku turun dari kereta api, dari Stasiun Bojonegoro ke Stasiun di Pasar Turi. Di luar kaca jendela, langit mendung dan kemudian rintik. Seketika tanganku merinding. Februari tahun 2024, hampir 2 tahun yang lalu, aku menaiki kereta dari Bojonegoro ke Surabaya dengan keadaan yang sama. Seseorang menungguku di dekat titik Grab sembari duduk. Kami nekat berkendara mencari seporsi mie ayam yang direkomendasikannya, lumayan jauh dari stasiun. Orang itu membawakanku helm dan di motornya hanya ada 1 jas hujan. Dia berulang kali menawarkan jas hujan itu untuk kupakai, sementara ia memakai jaket anti-air. Kenangan itu beberapa saat menyesakkan. Membuatku seperti ingin menangis, tapi ada banyak orang yg turun di Stasiun Pasar Turi.

Di atas motor, tangis yang sedari tadi kutahan akhirnya pecah. Bukan tangis yg histeris, bukan juga yg dramatis. Aku hanya meneteskan beberapa kali air mata. Memang masih ada yg tersisa, tapi barangkali tak banyak. Tapi aku menyadari bahwa perasaan itu masih ada di sana, setelah 2 tahun berlalu. Aku harus menyelesaikannya sebelum memulai hubungan yg baru. Dan ini yang sejujurnya berat. Aku tidak ingin memulai apapun yg baru, sebelum yang satu ini benar-benar selesai. Di sisi lain, aku tak ingin menyesal, karena melewatkan hal yang baik.

Ada satu laki-laki baik yg belakangan memperhatikanku. Laki-laki baik yang berbeda keyakinan denganku. Aku tahu kami berbeda, tapi dia baik. Saya tidak tahu, tapi saya suka cara-caranya yang seolah berani menantang apa saja yang diyakini tak baik. Caranya memandang dunia dengan berani, caranya meyakini sesuatu tanpa ragu. Dia seolah selalu mantap dengan keyakinannya, dengan pilihannya. Bahkan denganku yg sedari awal dia ketahui tak sama, dia begitu yakin, tak goyah.

Aku ada di persimpangan jalan, antara ingin membereskan residu dari patah hati yang lalu atau tak ingin melewatkan lagi hal baik yang datang. Aku dan laki-laki ini barangkali bisa bersama tanpa harus berkomitmen. Barangkali kami bisa menemani satu sama lain, supaya dunia tidak terasa begitu sepi dan sendiri. Aku pernah melakukan ini sebelumnya dan aku tahu bahwa aku bisa. Toh, menemani tak perlu memiliki perasaan kan? Kami cukup punya satu sama lain, cukup bisa ngobrol dengan baik dan menyenangkan, cukup meluangkan waktu satu sama lain. Atau, aku bisa menyelesaikan ini semua terlebih dahulu tanpa memikirkan apa-apa yang mungkin kulewatkan? Barangkali yang memang ditakdirkan untukku tak akan menjadi milik yang lain, seberapa lama pun waktu yg kubutuhkan untuk pulih.

Mungkin yang terakhir. Mungkin.

Lalu...aku lupa, apa yg hendak kutuliskan tadi. Kulanjut nanti jika aku ingat.

 

Oh ya, aku ingat...

Di atas motor, awalnya aku tak menangis, hanya terasa sedikit sesak. Tapi kemudian kukatakan kepada diriku bahwa, "Hi, Chus. Maaf ya, aku membuat kesalahan lagi. Kumaafkan kamu. Semua orang membuat kesalahan dan itu lumrah. Yang sudah terjadi tidak bisa diubah. Hal yang bisa dilakukan sekarang adalah berbenah diri. Aku memaafkanmu, memaafkan kesalahan kita. Sakit ya? Kita bisa ambil waktu untuk merasakan sakit ini. Iya, kita merindukan Arif. Kita telah berbuat salah padanya. Tidak apa-apa, kita sudah minta maaf padanya. Kini saatnya kita memaafkan diri kita sendiri. Barangkali sekarang sakitnya tinggal 20%, masih bisa ditahan, dan sesaknya tidak begitu. Mari kita tunggu saja sampai ini semua reda dan berhenti." Aku kemudian menangis. Beberapa tetes air mata, perasaan muram yang tidak terlalu, tapi ada sedikit. Kubilang lagi pada diriku, "barangkali sekarang terasa seperti tinggal 20%, terasa hampir selesai, tapi ada kalanya nanti, mungkin, itu akan menjadi 80% atau bahkan 100%. Seperti mengulang dari awal. Seperti mengalami sakit yang sama, ketika lukanya baru meledak. Ini proses yang dinamis. Yang perlu dilakukan adalah menerimanya. Menerima kalau saja diri kita belum selesai dengan ini semua. Menerima bahwa kita perlu waktu untuk mencerna ini semua dan menyembuhkan diri, meski butuh waktu lama." Aku ingin berusaha memeluk diriku sendiri. Tidak terlalu keras padanya. Tidak terlalu banyak mengkritiknya. Anak kecil di dalam diriku ini terjeda pertumbuhan emosionalnya, entah mulai di usia berapa, tapi dia perlu diberi waktu dan dipahami juga. Jadi, mulai sekarang kuputuskan untuk tidak terlalu keras pada diriku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

One More Time One More Chance

Anything I Wish I Could Tell

Kala Itu, Cinta