Postingan

Hamsun Datang Malam Ini

Di bawah sinar lampu paling terang di taman Rajekwesi, reading club kembali dilaksanakan kemarin. Ini adalah bagian dari upaya kami untuk mengubah fungsi taman kota yang semula digunakan muda-mudi untuk berkencan, menjadi tempat berbagai kegiatan positif, salah satunya adaah membaca. Seperti yang kujelaskan pada catatan-catatan sebelumnya, banyak orang lalu-lalang memandangi kami dengan sangsi. Tapi, tak mengapa. Hal ini lambat laun akan dianggap wajar jika dilakukan terus-menerus, malah mungkin, akan dicontoh oleh beberapa komunitas pembaca lain. Malam itu, ketika aku sampai, Mas Wisnu sudah lebih dulu di tempat. Dia sedang sibuk memikirkan design logo. Setelahku, datanglah Dinal, lalu Mas Risky. Dinal hanya mampir sebentar, lalu pergi. Kukira, ada suatu hal yang menjadi alasannya datang, tapi setelah dicari ternyata tak ada. Sebelumnya Nisa mengatakan akan datang, tapi tak kunjung sampai. Mungkin ada keterkaitan antara keduanya. Mungkin. Selepas Dinal pergi untuk bermain...

Mengendalikan Lapar

Eka Kurniawan pernah menuliskan bahwa Lapar yang ditulis oleh Knut Hamsun adalah karya yang mendorongnya untuk menjadi penulis. Bukan hanya Eka Kurniawan, tapi penulis besar seperti Ernest Hemingway juga dikatakan terinspirasi dari buku tersebut. Dari situ, kami kemudian bertanya, “sebagus itukah Lapar yang ditulis oleh Hamsun?” Ini yang menjadi awal mula bagaimana kami memutuskan untuk membaca dan mengkaji Lapar. Kemarin adalah pertemuan ke-empat kami. Hanya ada sedikit partisipan di pertemuan minggu ini, karena sebagian lainnya sedang memiliki urusan lain. Ada Mas Risky yang sedang bertugas untuk meliput pertandingan Persibo di luar kota, Mas Jano yang sedang berkepentingan di Semarang, Mas Wisnu sedang sibuk mengerjakan sesuatu, dan beberapa yang lain memiliki urusannya sendiri. Tidak masalah, pembacaan buku tetap berlangsung dengan 5 orang yang hadir. Mas Tohir, Faizal, Aku, Mas Ikal, dan Mbak Vera. Mas Tohir, orang yang bertugas untuk membuka pembacaan buku di pertemu...

Taman - Malam - dan Bacaan

Taman Rajekwesi malam kemarin lebih ramai dari biasanya. Banyak muda-mudi berkencan, dan pasangan suami-istri beserta anak menghabiskan malam minggu bersama. Dan di tengah suasana yang sedemikian rupa, kami memilih duduk bersama dan membaca. Orang-orang lalu-lalang memandangi kami dengan sangsi. Tapi, siapa juga yang peduli?  Di bawah cahaya lampu taman yang temaram, disaksikan bulan sabit yang tertutup gumpalan awan, kami duduk membentuk lingkaran. Ada sepuluh orang yang hadir dalam pembacaan buku malam itu. Beberapa di antaranya adalah orang-orang yang baru pertama kali bergabung dalam proses pembacaan buku Lapar karya Knut Hamsun. Kami mengulang kembali pembacaan pada halaman 19 atau lembar ketiga dalam kertas kopian. Sampai pada halaman itu, kami belum mendapati kesulitan apa-apa dalam pembacaan. Tidak ada kata aneh yang membutuhkan pembahasan mendalam. Paragraf pembuka di lembar ketiga itu masih berisi deskripsi tentang tokoh ‘Aku’ yang merasa lapar (meskipun tida...

Pertemuan Ngaostik Dengan Knut Hamsun - Lapar

Sudah sejak lama wacana soal membaca buku bersama muncul di Ngaostik, rumah besar bagi beberapa komunitas di Bojonegoro. Membaca bersama adalah membaca satu buku bersama-sama, di waktu yang sama. Ada aturan yang disepakati dalam pembacaan buku tersebut, salah satu yang paling penting adalah ketentuan jumlah halaman. Dalam satu pertemuan misalnya, kami hanya akan membaca tiga sampai lembar buku saja. Lho, kok begitu? Iya. Kami mengibaratkan agenda membaca bersama ini adalah puasa. Bagi beberapa orang, membaca adalah candu, sehingga nafsu untuk membaca sangatlah tinggi. Adanya agenda ini adalah untuk mengendalikan nafsu membaca. Pengendalian ini bukan semata untuk mengurangi nafsu baca. Bukan. Tapi membaca buku bersama ini bertujuan untuk memaknai pembacaan sehingga membaca bukan hanya sekedar ritual untuk tahu isi dari buku, dan selesai. Sudah. Bukan begitu. Dalam agenda membaca buku bersama ini, kami mencoba untuk mengurai satu per satu makna, meski tidak semua bisa diurai. Memakna...

Jangan Jatuh Cinta Kalau Tak Siap Jatuh

Salam, Pagi ini, kamis 30 Agustus 2017, saya berniat menulis. Tulisan ini ringan, tentang pacaran. Terinspirasi dari teman saya yang baru saja putus cinta. Baiklah, saya sejujurnya tidak punya tips apapun untuk membantu orang-orang yang baru putus cinta untuk menyembuhkan luka. Perkara sembuh itu butuh waktu dan prosesnya macam-macam. Hal yang bisa saya lakukan hanya mendengarkan apa saja yang dikatakan. Mau nangis, mau marah, mau mengutuk, memaki atau apapun, ya sebagai orang yang bertelinga saya dengarkan saja. Masalahnya kalau saya sendiri sudah jengah, sudah muak, ya, saya abaikan. Selesai. (Itu yang kadang membuat teman malas curhat ke saya) Tapi, apa sih yang ingin saya tulis hari ini? Ya, soal putus cinta. Nasehat saya cuma satu, yaitu biarkan. Kalau mau nangis, ya monggo. Mau teriak-teriak, ya monggo. Mau apapunlah selama tidak berdampak merugikan bagi orang lain. Saya tahu, putus cinta itu sakit. Ya, meskipun tidak berpengalaman, tapi memang sakit. Proses penyembuhan tiap...

Perempuan Dan (Pertanyaan Seputar) Pernikahan

Salam, Semenjak beberapa hari kemarin, banyak tulisan mengenai perempuan dan pernikahan. Baiklah, saya akan ikut memberikan pendapat saya mengenai perempuan dan pernikahan. Di Negara ini, atau lebih spesifik lagi di daerahku tinggal, Bojonegoro, usia 25 adalah usia di mana banyak perempuan lajang akan diberondong pertanyaan “Kapan menikah?” oleh  keluarga, tetangga, atau teman-teman sekolah. Jangankan usia 25, menginjak usia 20 saja, perempuan di tempatku tinggal sudah mulai ditanya soal rencana pernikahan. Pertanyaan ini juga mungkin diajukan untuk laki-laki, tapi saya tidak terlalu tahu apakah seintens yang diberikan kepada perempuan. Saya? Ya, saya juga mendapatkan itu. Ketahuilah, Saudaraku. Perkara menikah adalah pilihan. Pilihan untuk menikah di usia 20an, 30an, 40an atau lebih. Pilihan untuk menikah dengan si A, B, C, D atau yang lain. Pilihan untuk melakukannya di hadapan banyak orang atau sebatas kolega terdekat. Pilihan untuk menikah dengan sederhana atau meriah. ...

Tidak Ada Jawaban

Malam itu Bana mengantarkan Laras ke stasiun Pasar Senen. Mereka masih punya satu jam sebelum kereta Laras berangkat pukul 23.15 nanti. Lalu, duduklah mereka memesan mie ayam dan baso di depan stasiun. Mereka menyantap mie yang dihidangkan. Laras tak berselera, karena mie yang dihidangkan tak direbus hingga matang. Hal itu terlihat dari mie yang masih berwarna kekuningan dan sedikit kaku. Bana yang lapar hanya menyantap, tidak peduli apakah rasanya enak atau tidak. Ini perkara lapar, yang konon membuat apapun yang dimakan, akan terasa nikmat. “Apa kamu harus pergi sekarang?” Tiba-tiba saja Bana menanyakan hal itu kembali. Pembicaraan ini sudah lebih dari yang ke-sepuluh kalinya, dan tentu saja Laras akan memberikan jawaban yang sama. Tetapi kali ini lain, Laras hanya melihat saja. “Kamu akan kembali minggu depan, kan?” secepatnya Bana memperbaiki pertanyaannya. “Ban?” “Ya?” “Kita sudah bicarakan hal ini ratusan kali.” Laras menatap mata sahabatnya dalam. “Aku butuh libu...