Pagi ini aku turun dari kereta api, dari Stasiun Bojonegoro ke Stasiun di Pasar Turi. Di luar kaca jendela, langit mendung dan kemudian rintik. Seketika tanganku merinding. Februari tahun 2024, hampir 2 tahun yang lalu, aku menaiki kereta dari Bojonegoro ke Surabaya dengan keadaan yang sama. Seseorang menungguku di dekat titik Grab sembari duduk. Kami nekat berkendara mencari seporsi mie ayam yang direkomendasikannya, lumayan jauh dari stasiun. Orang itu membawakanku helm dan di motornya hanya ada 1 jas hujan. Dia berulang kali menawarkan jas hujan itu untuk kupakai, sementara ia memakai jaket anti-air. Kenangan itu beberapa saat menyesakkan. Membuatku seperti ingin menangis, tapi ada banyak orang yg turun di Stasiun Pasar Turi. Di atas motor, tangis yang sedari tadi kutahan akhirnya pecah. Bukan tangis yg histeris, bukan juga yg dramatis. Aku hanya meneteskan beberapa kali air mata. Memang masih ada yg tersisa, tapi barangkali tak banyak. Tapi aku menyadari bahwa perasaan itu mas...
Maybe in around august 1 st , I matched someone from Bumble whose i thought I could talke with in the same frequency. He loves anime and I do, too. He seems like nice guy, a good one. The next morning, there was no more conversation in few days. I guess he didn’t interest in me, because I do the same when I don’t feel like continue talking to my matches on bumble. So, I unmatched him in disappointment. The next morning, he DM me on IG. Actually, I was happy when he started, and I felt like there was kind of intention to continue chitchat. He asked, why do I unmatched him, and I told him my reason. At that time, he explained that he was busy, working on project in a village where the signal was not good. We continue talking, until then, we talked about MBTI. He asked me his type and the last words I remember said to him was that INFPs are mostly soft hearted person. He didn’t reply until then, but view my story. Few days passed, and he still didn’t response my last chat. Oke, well, he ...
Salam, Untuk kedua kalinya di malam ini saya menulis. Kali ini saya ingin membahas topik yang sama namun berbeda. Menyaksikan seorang teman yang gugup hendak bertemu dengan sang pujaan, rasanya teringat ketika jatuh cinta (dulu). Cinta seperti apa? kali ini benar, tulisan ini membahas tentang cinta pada sesama manusia (?). Perasaan peduli kepada orang lain lebih dari diri sendiri, perasaan khawatir saat pujaan tak kunjung datang menemui, perasaan rindu saat tak berjumpa, perasaan sakit melihat deritanya, ya seperti itu kira-kira. Saya ingat, dia adalah orang pertama yang membuat saya jatuh cinta, orang pertama sekaligus penyiksa yang luar biasa. Tak sekalipun saat bersamanya saya katakan bahwa saya cinta. Fase denial karena dia sama sekali bukan tipe ideal yang saya mimpikan. Bukan lelaki dengan kecerdasan diatas rata-rata, bukan pendiam yang menyimpan sejuta misteri, bukan lelaki dewasa yang bisa bersikap manis dan memperlakukan perempuan dengan baik. Dia jauh sekali dari itu. ...
Komentar
Posting Komentar