Postingan

Aksi Sore Mahasiswa Untuk Palestina

Sore ini, minggu 13 juli 2014 secara tidak sengaja saya menjumpai kawan-kawan mahasiswa, gabungan dari beberapa Ormek melakukan aksi peduli Palestina, diawali dari bundaran adipura dan berlanjut di depan kantor pemerintah kabupaten Bojonegoro. Aksi tersebut merupakan gabungan dari kawan-kawan HMI, PMII, GMNI, IMM, OI, dan beberapa Ormek lainnya. Sayang sekali tidak mengikuti jalannya aksi sejak awal. Di akhir aksi, terdapat acara sholat ghaib dan saya sempat mengikuti dzikir untuk saudara-saudara di Gaza, Palestina. It was quite impressive, saya berniat hanya mengajak kenalan beberapa mahasiswa aksi yang berada di bawah bendera organisasi yang sama namun kemudian diajak mengikuti runtutan acara selanjutnya, meskipun itu acara paling akhir yakni dzikir. Tadi merupakan aksi di jalan pertama yang saya lakukan. Tidak terlalu banyak yang saya ketahui mengenai aksi peduli palestina yang dilakukan kawan-kawan mahasiswa di Bojonegoro. Selain karena tidak mengikuti dari awal acara, say...

Bu, ibu

Bu, anakmu ini rindu, tapi jauh di perantauan. Bu, anakmu ini ingin tidur dimanjamu, tapi dia harus belajar. Bu, anakmu ini ingin sekali pulang malam ini, tapi tempat ini menuntut tanggung jawabnya. Bu, anakmu ingin menjadi anak untuk malam ini, bukan mahasiswa, bukan organisatoris, bukan siapa-siapa. tapi anakmu. Bu, anakmu ingin bersantai sejenak dirumah, bukan kampus, kos atau ruang rapat lainnya. Tapi rumah, ruang keluarga kita. Bu, anakmu ingin memperingati nifsu sya'ban bersamamu, bersama ayah, kakak dan adik. Bu, ibu. Anakmu ini lelah, tapi tidak ingin menjadi bodoh. Tidak ingin menjadi sia-sia. Anakmu ini jatuh, tapi tidak ingin terpuruk. Anakmu ini sakit, ingin menangis, tapi tidak ingin terlihat lemah. Tidak ingin menjadi kecewamu. Bu, apa yang harus dilakukan anakmu ini?

No name

Kali ini aku ingin berbicara mesra dengan langit malam dan cahaya bintang Setelah sore yang melelahkan berperang Aku ingin bermesra membicarakan angin yang liar menggoda Kukira dia sedang dimabuk cinta Kukatakan mari melupakan sore tadi Bukankah malam ini terlalu indah untuk berbagi luka Dengar, angin mendesis meniupi rambutku yang terurai Jangan tertawa, Suaramu memecah kesakralan Mari berbicara dalam diam Seperti itu aku bercengkrama dengan mereka Tidakkah kau bertanya mengapa aku bertelanjang kaki menyusuri dingin? Tidakkah banyak yang ingin kau ketahui hari ini? Bertanyalah, tapi jangan sekalipun bicara Pertanda bertebaran di dalam semesta Dia berbicara menjawab segala tanyamu Temukanlah, sayang Kau...pernahkah kita sedekat darah dengan arterinya? Aku seperti ingin tertawa...menertawakan diriku yang tak pandai beranalogi Sudahlah, tampaknya langit malam tak lagi menentramkan Udara yang dihembuskan memekik dalam Mari sudahi semuanya, Aku cukup lelah.

Kata - Rasa - Kita

   Halo, sudah lama rasanya. Hari ini aku kembali melanjutkan novel yang sudah terbengkalai sejak lama. Sedikit demi sedikit harus dicicil, supaya kembali terbiasa menulis, supaya cepat selesai dan cepat dinikmati hasilnya. Aku menyadari satu hal, menulis bukan saja menggoreskan pena di atas kertas, bukan saja menekan-nekan keyboard laptop, tapi juga memindahkan sebagian dari dirimu. Jika novelku adalah lagu, maka genrenya adalah mellow. Ya, aku banyak menangis saat menulisnya. Aku banyak menghabiskan tissue untuk itu, dan mungkin raditnya dika tertawa terbahak-bahak saat menulis novelnya, saat mengisi blognya, mungkin dewi lestari juga menangis saat menuliskan percintaan kugy, mungkin dee juga merasa aneh atau bahkan melakukan keanehan yang sama seperti yang dilakukan kugy, mungkin paul coelho juga menempuh satu ujian berat dalam hidupnya hingga menghasilkan kata-kata bijaksana dalam tulisannya. Mereka sukses mempermainkan emosiku, membawaku tertawa, menangis, tersenyum, jat...

Welcome 2014

It's already 2014, so....welcome 2014. Everyone talks about resolution? So, what resolution i have for 2014? Actually i have no idea what to write, but i think i have to finished what i've started. What to complete?    Jelas yang pertama adalah menyelesaikan kuliah. Mungkin mission impossible untuk 2014, tapi semoga skripsi dilancarkan di 2014 dan pada akhirnya semoga ada sweet moment di awal 2015. I can't wait for that time. Nggak bisa bayangin ekspresi kedua orang tua yang lega anaknya udah lulus, dan nggak bisa bayangin muka sendiri. Well, ini rencana yang ingin dicapai. Semoga.    Lanjut, the next thing to complete is my novel. Iya, berapa tahun udah novel nangis-nangis minta diselesaiin. Semoga bisa jadi kado di tahun 2014. Semoga bisa diterima penerbit, tapi yang jelas semoga selesai dulu. Ini seperti tanggung jawab kedua. :D    Next, ada hal lagi yang menjadi tanggung jawab. Pers Mahasiswa Universitas Airlangga, semoga cepat menjadi UKM. S...

Sebagian Yang Tertulis

   Sedari tadi mencoba menulis, tapi selalu gagal di kalimat pembuka. Bingung apa yang mau ditulis, apa yang mau disampaikan, apa yang mau dibagi. Ada banyak, tapi mana salah satunya. Ada banyak, tapi mana yang pantas dibagi. Ada banyak, tapi mana yang pantas dibaca.    Apa itu sakit? sakit adalah melihat orang yang paling kau sayangi terluka tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk menyembuhkannya. Sakit adalah tidak dapat melindungi orang yang ingin kau lindungi. Sakit adalah tidak bisa melihat senyumnya.    Jika itu sakit, maka kata benci akan datang mengikuti. Aku membenci diriku sendiri karena tak bisa berguna. Jika aku membenci diriku sendiri karena tidak bisa membenci orang yang seharusnya kubenci. Dan mungkin tak seharusnya aku membenci, tapi tak seharusnya juga terluka melebihi luka yang kudapat sendiri.    Aku bisa membagi sakitku. Bisakah? mungkin saja. Jika diantara teman bertanya "Kenapa?" maka jawaban "Tidak apa-apa" menjadi sangat...

Senja - Airmata - Kita

Waktu itu sore, matahari berada tepat diujung barat. Kukira akan hujan, ternyata tidak. Dia datang dan duduk disampingku. Aku menyadari kedatangannya dan kami saling tersenyum. Ada jarak yang diisi oleh kesunyian yang dalam. Entah apa yang kami pikirkan, entah apa yang kami ingin luapkan. Hanya keheningan. Ada banyak hal yang berada dipikiranku, entah bagaimana dengan dia. Kuputuskan untuk mengakhiri keheningan, “Kenapa kamu datang?” aku menoleh padanya. “Ada yang memintaku datang,” dia menoleh dan tersenyum. Kurasa senyumnya masih menenangkan seperti dulu. “who?” “I don’t know. Do you know?” “No, I don’t.” “Then I must be wrong.” Keheningan kembali mengisi ruang diantara aku dan dia. Hanya suara kendaraan yang lalu lalang, serta kicauan manusia-manusia yang tak tertangkap daun telinga secara jelas. “Langit semakin memerah, apa dia menyimpan amarah?” tanyanya memecah keheningan. “Mungkin saja.” Aku tertunduk, kutahu pasti apa yang dia maksud. “Bagaimana membebaskan...