Postingan

Useless Generation and What?

Last time, i had long convo with a friend. He offered a topic about technology would replace some professions. it's already starting tho. Long time ago, people work in a big factory, but we knew a revolution happened in France, replaced most of workers with machines. But i dont think people should be afraid too much on that changes, because when some profession are replaced with AI, there would come another new professions. For example, long time ago, we had no such called influencer, we were looking information about products from ads which also created by the company of the product. Now that there are too many products in the market, people get confuse which product suits their needs and wants, so there's an influencers to give them information about the products. Long time ago, we came to buy meals. Now, because we got lot of things to do, but our time are limited, there's a profession to serve a delivery service. Now that everything are based online, there are too many ...

The Curse

Imagining him hug me in the middle of loneliness night, it comforts me everytime, like, finding part of me that beg, i want him back to me, but no. The thing that i use to comfort myself is my imagination about him. It is the ideas of him that i create in my own mind. I want those nights we spend to listen to his mind, telling me this and that, and even if i already knew about it, i still love to listen the way he told me with that excitement. And i hate myself for being over analizing things. Somehow, i enjoyed while amigdala shuts, when i dont have to think about what causing 'it', how it could destroy me, what the future might be. I want just enjoy the moment and be happy. Possed an over analizing power is curse. That way brain consume too much from happiness. To prevent greater lost? fuck off, its not preventing, but sabotaging myself from happiness and it is worse than consuming drugs.

Kebebasan Semu dan Kesepian yang Nyata

Kita berusaha berdamai dengan sepi, setiap hari. Sembari pura-pura merayakan kebebasan. Dulu, saya yakin sekali bahwa saya tidak akan menikah dan untuk itu tidak berada di dalam suatu hubungan pun tidak menjadi masalah bagi saya. Saya yakin bahwa teman-teman yang bisa diajak ngobrol dan nongkrong saja cukup untuk menemani saya sampai tua, jika itu mungkin. Tetapi toh kala itu saya hanya berencana hidup sampai usia 27 tahun. Na'asnya hidup saya lebih dari itu. Sekarang di usia yang menginjak 30 tahun, saya sudah kehilangan beberapa teman yang dulunya saya kira akan terus menemani saya ngobrol dan nongkrong. Beberapa dari mereka menikah dan sibuk mengurus anak atau bekerja lebih giat karena ada orang lain yang ditanggungnya. Beberapa lainnya bekerja di tempat yang lebih jauh, tidak terkecuali saya yang pada akhirnya berpindah kota. Mengobati sepi itu, saya mencoba menjalin hubungan romansa, tetapi entah itu trauma lama yang belum terobati atau memang hanya keputusan bodoh, saya kerap...

Meluaskan Makna Inklusi

Biasanya saya menuliskan kesedihan-kesedihan yang saya alami atau saya tangkap dari sekitar, kegundahan, kegelisahan...tapi kali ini saya ingin menuliskan hal baik. Saya masuk kuliah S1 pada tahun 2011. Saya pergi merantau ke Surabaya di salah satu kampus paling terkenal di Jawa Timur. Ibu-Bapak saya bangga karena anaknya masuk ke Unair, meski kalau ditanya jurusannya ternyata tidak keren-keren amat. Ilmu Politik. Wkkwk Saya ingat waktu itu, saya adalah mahasiswa dengan uang saku pas-pasan sehingga ngirit sekali untuk beli pulsa atau kuota. Suatu hari, saya diberitahu bahwa perpustakaan kami buka sampai malam. Ruang yang dibuka hanya layanan publik, tapi itu sangat membantu kami. Mereka buka layanan sampai jam 3 pagi, kami bisa membawa makanan dan minuman di sana, dan desain ruangannya sederhana, konsep lesehan di mana mahasiswa bebas untuk berbincang di sana. Saban hari setelahnya saya sering datang ke perpustakaan kampus sampai malam: baik untuk belajar atau untuk menyegarkan pikiran...

Doa Pagi

 Saut suara toa dari serambi depan rumah dan sajadah yang kau bentangkan saat pagi masih malu datang dan malam beranjak tenggelam. Lalu, kau ketuk pintu kamarku tiga kali, memanggil namaku pelan Kudengar kembali suara dari toa di seberang rumah, seksama kudengar, apakah kau masih berdiri di sana memanggilku pelan dan memintaku mengirimkan doa dan derai air mata Kutanya Tuhan, bagaimana caranya melipat rapat jarak dengan doa? seperti partikel udara di pagi buta sebelum muai kembali menjelang siang. Oktober, 2022

Membayangkan Surga

 Barang kali, ada surga di ujung dunia, yang hangat seperti pelukanmu saat aku tak bisa tidur, lepas kubayangkan dunia Barang kali, ada surga di ujung dunia yang sejuk seperti doamu kala kucium tangan dan kau usap kepalaku sekali, sebelum beranjak Barang kali, ada surga di ujung dunia yang tenang seperti raut mukamu saat pergi di Kamis pagi setelah menyantap sekotak pepaya Barang kali, rasanya tak asin seperti rindu yang picu derai air mata, yang resap tanpa sengaja Di kepala ada ribuan 'barang kali' yang tak dipahami logika kecil manusia di hadapan semesta, dan kau salah satunya. Kita mengeja kehidupan seperti mengeja Qur'an saat malam lepas magrib atau pagi setelah subuh Bisakah sekali lagi, kau antar aku memahaminya? seperti saat kau bawa aku lahir ke dunia November, 2022

Mengekspresikan Emosi

Pernah tidak kita merasa 'sungkan' atau justru 'lebay' ketika menerima pujian? Sejujurnya, itu yang kurasakan, meski kadang di dalam hati ada rasa senang juga, tapi sering tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika dipuji. Saya sepertinya hampir tidak pernah menerima pujian dari orang tua ketika kecil, meski saya tahu bahwa di belakang saya, bapak atau almarhum ibu memuji anak-anaknya. Jadi, agak aneh bagi saya ketika kemudian saya menerima pujian, doa, atau apa saja. Di keluarga kami, emosi hampir jarang diekspresikan secara luwes, kecuali amarah yang memuncak, baik itu dengan menangis atau marah-marah. Itu pun hanya orang tua yang punya privilese mengekspresikan rasa marah. Anak-anak hanya mengekspresikan rasa marah jika sedang berantem antar saudara. Jadi, saya juga tidak tahu sesungguhnya bagaimana mengekspresikan rasa senang di dalam rumah, atau membagikan kekecewaan melalui komunikasi yang baik. Ketika ulang tahun, setelah memberikan nasi kuning kepada teman-teman...