Postingan

Januari Pembuka

Gambar
Salam, Pagi ini, dari sebuah kantor kecil tempat saya akan menginap selama beberapa hari mendatang, saya akan mulai menulis lagi. Hari pertama, pada Jum'at lalu saya dengan beberapa teman sampai di stasiun Lempuyangan, tepatnya pada jam 14.08. Delapan menit molor dari jadwal yang tertera di tiket kereta. Sambil menunggu, kami memutuskan untuk mampir di sebuah warung kopi di seberang pintu keluar stasiun. Saya pribadi bukan penggila ataupun penikmat kopi, saya putuskan untuk memesan satu gelas susu cokelat hangat. Seorang teman bercerita mengenai pengalamannya menikmati kopi. Dia berkata, setiap daerah memiliki kekhasan rasa dan aroma kopi. Kopi hitam dan pekat, bukan kopi rasa-rasa seperti yang berjejeran di Mall-mall. Kopi-kopi palsu yang rasanya sudah tak asli lagi. Sudah banyak dicampuri gengsi Saya sepakat jika mengatakan orang ini adalah pecinta kopi sungguhan. Sesampai di kantor pusat KoPi, kami menemui banyak teman, kami disambut hangat. Khas sekali, Jogja. Ramah ...

Rumah Tanpa Pintu (?)

Salam, Malam ini ingin menulis tentang sesuatu yang berbau perasaan. Belakang terlalu banyak menulis, tapi tak satupun mengandung nyawa, kupikir aku tak benar-benar menikmati tulisanku belakangan ini. :) Diruangan tanpa jendela ini, alunan musik berpadu dengan suara blower dan kipas angin. Lampu kamarku masih menyala, aku tahu ini hampir tengah malam. Di kamar tak berjendela ini, cahaya bintang tak dapat masuk, tapi pikiran bergelora. Sejujurnya aku tak tahu apa yang sedang kutulis, hanya perasaan ingin menulis, supaya lega. Aku penasaran, apakah rumah masih disebut rumah jika tak ada yang pulang? Lantas bagaimana jika pintu tak lagi mau membuka? atau jendela tak lagi mampu membawa masuk cahaya? Apakah bangunan itu masih bisa disebut rumah? atau hanya bangunan kosong tak berpenghuni? Apakah rumah adalah bangunan atau suasana yang tercipta? Dan apakah ada rumah yang tak dapat membukakan pintu selain pada penghuni pertamanya? Sedang diluar ada penghuni yang mampu merawat d...

Mati Tanpa Merasa

  Diantara rinduku, kamulah empunya Sebuah pohon tumbuh dan mengakar Jantung bumi berdetak, hidup Mengikat dan tumbuh lebat Diantara sakitku, kamulah biangnya Taring ular menancap dan bisa mengalir Kematian mendekat, sangat dekat Penawar menyaratkan ajal Duhai sayang, Diantara pohon dan ular itu pertahanan dibuat Satu sama lain menguatkan Tapi kemudian tak ada hidup disana, meski dia tak mati Duhai sayang, Tak ada nafas meski jantung berdetak Tak ada mimpi meski esok datang menemui Pada garis batas dia kucari Tapi menghilang tak tersisa Tak ada jasadnya, tak ada obatnya Dia telah mati tanpa merasa Surabaya, 9 Desember 2014  (00.32)

Dua Tahun Berproses di LPM Mercusuar

   Salam,    Minggu pagi waktu untuk bersantai. Saat ini, saya berhadapan dengan sebuah laptop, setelah sekian lama berkutat dengan tulisan lain. Saya ingin bersyukur, mengucapkan terima kasih yang dalam pada Tuhan. Untuk apa? untuk segala yang diberi tanpa saya meminta, untuk segala yang diberi melibihi harapan, untuk apapun yang hadir dalam hidup saya.    Saya mencintai tulisan, begitu juga saya mencintai bacaan. Pada pers saya menaruh ketertarikan, 'ksatria bertinta' adalah nama yang saya hadiahkan pada jurnalis-jurnalis murni, yang mengabdikan dirinya untuk menulis dan pembaca yang menikmati tulisannya. Sebelum menjadi mahasiswa, sejak saya duduk di bangku SMP, mimpi menjadi wartawan pernah menggantung dua sentimeter di depan kening saya. Alasannya lucu, karena saya ingin bertemu Pedrosa, alasan lainnya pun begitu, karena saya ingin berkeliling dunia, tanpa saya tahu 'aturan menjadi jurnalis'. Anak muda dengan impian dan idealisme yang tergantung...

Menulis

Halo, sekian lama tidak menulis. Disini, disebuah ruangan lantai 3 rektorat, dengan kaca-kaca yang terbuka. Saya mendengarkan materi penulisan artikel, tahap motivasi. Saya jadi ingin menulis, karena itu lewat telepon genggam saya, tulisan ini saya mulai. Saya teringat novel saya yang terbengkalai selama beberapa tahun, tapi menulis itu proses, menulis itu keinginan dan fokus. Saat ini keinginan saya untuk merampungkan novel dikalahkan oleh tugas-tugas saya sebagai mahasiswa. Terkadang saya berfikir untuk mengambil cuti dan berfokus untuk menulis, tapi sekitar menghendaki saya untuk berfokus pada status mahasiswa saya. Bukan menjadi alasan sebenarnya. Tapi kawan, jika kamu menulis sebuah novel atau cerita, pernahkah kamu merasa seperti tidak ada apapun selain kamu dan laptop atau apapun yang kamu gunakan untuk menulis? seperti kamu melepaskan realitas yang kamu jalani dan masuk ke nadi tulisanmu, kehidupan alien yang tak diketahui orang-orang sebelum siap dibungkus untuk dibaca khalay...

KKN : August's Memories

   Selamat malam,    Lama sudah, saya tidak tahu ingin memulai menulis dari mana. Biar saya membagi sedikit. Sejujurnya malam ini terasa sedikit kosong, lantas teringat agustus yang baru saja berlalu. Hampir selalu, setiap sore suasana ramai. Teman-teman yang menjadi keluarga selama hampir satu bulan mempersiapkan untuk program mengajar. Anak-anak kecil berdatangan, mencium satu per satu tangan kami. Ada kehangatan dalam senyum teman-teman pengajar, ada kegembiraan dalam tawa adik-adik. Saya ... rindu. Menyanyikan lagu anak-anak, mereka dengan senyum yang riang ... manis. Untuk jam-jam selanjutnya, perjalanan malam ke kota. Entah apa yang sebenarnya kami cari. Udara malam menemani. Lagu-lagu yang diputar di mobil Dio dan Anthony ... kursi paling belakang untukku, Alfinda dan Wuri ... Daus dan Ayip, sesekali Nissa. Saya menjadi lebih hafal kota kelahiran saya dibandingkan sebelumnya.    Saya ... merindukan balai desa itu, bukan, mungkin orang-orang it...

Aksi Sore Mahasiswa Untuk Palestina

Sore ini, minggu 13 juli 2014 secara tidak sengaja saya menjumpai kawan-kawan mahasiswa, gabungan dari beberapa Ormek melakukan aksi peduli Palestina, diawali dari bundaran adipura dan berlanjut di depan kantor pemerintah kabupaten Bojonegoro. Aksi tersebut merupakan gabungan dari kawan-kawan HMI, PMII, GMNI, IMM, OI, dan beberapa Ormek lainnya. Sayang sekali tidak mengikuti jalannya aksi sejak awal. Di akhir aksi, terdapat acara sholat ghaib dan saya sempat mengikuti dzikir untuk saudara-saudara di Gaza, Palestina. It was quite impressive, saya berniat hanya mengajak kenalan beberapa mahasiswa aksi yang berada di bawah bendera organisasi yang sama namun kemudian diajak mengikuti runtutan acara selanjutnya, meskipun itu acara paling akhir yakni dzikir. Tadi merupakan aksi di jalan pertama yang saya lakukan. Tidak terlalu banyak yang saya ketahui mengenai aksi peduli palestina yang dilakukan kawan-kawan mahasiswa di Bojonegoro. Selain karena tidak mengikuti dari awal acara, say...